Gencar saya mengetag tulisan saya yang berjudul Demi, Tahun Baru kepada sahabat dan teman teman saya. Kenapa? ya … seperti alasan saya yang saya tulis dalam tulisan itu, semata – mata saya hanya menyayangi dan mencintai kalian semua karena Allah. Bukan alasan lain, sungguh ….
Kebahagian ini menyeruak ketika ada salah seorang teman yang bilang, ” Wah iya tah mbak gini? Q sebelum nya juga udah pernah dengar tentang ini, tapi gak ngeh alias lewat saja.” Saya jawab, “ya sudah baca ajj … disitu ada kisahku kog. Sebenarnya ngehnya juga baru tadi pagi.”
Namun, disaat yang sama tiba tiba ada teman yang datang di kamar saya sambil bilang ” Finda ajari buat bumbu bikin ikan yang dulu itu dongz…” Wahhh…otomatis saya langsung terserang pasukan bingung, hadeh…terus menyrang bertubi – tubi. Namun, untungnya saya stay cool ajj, bisa menghindar beberapa kali dan alhamdulillah saya benar2 lupa resepnya gimana? Oh… kuasa Tuhan bukan? Inilah yang dinamakan bantuan Tuhan dikala kita benar2 sungguh2 memperjuangkan syariatnya
Tipis memang batas antara bahagia dan sedih, buktinya pengalaman yang saya rasakan hari ini. Ya seperti yang saya sebutkan diatas, namun sampai saat ini pun saya ingin tetap menjaga kebahagiaan ini supaya tidak sampai meluap. Saya takut Tuhan akan segera mengambilnya, ya karena batasnya memang tipis dan kalau boleh saya mengibaratkan adalah seperti 2 balok (balok kesediahan dan balok kebahagiaan) yang saling melekat dan dibatasi oleh sesuatu. Sesuatu itu ibaratnya telapak tangan yang bisa dibolak balik, maka bahan telapak tangan itu adalah sebuah membran tipis yang sangat tipis dan hampir transparan serta rapuh. Jadi sewaktu waktu dapat dengan mudah terbalik. Maka dari itulah saya ingin menjaga keseimbangan antara kebahagiaan dan kesediahan ini. Yang bisa saya lakukan lebih adalah terus dan terus menyampaikan kalo anggapan mereka tentang Tahun Baru Masehi itu tidak tepat serta berdo’a pada Tuhan untuk segera memberikan masa yang indah itu pada kami semua umatnya. “Paling tidak ijinkan saya merasakannya atau kalau tidak ijinkan saya menjadi salah satu orang yang memperoleh predikat muliamu sebagai pejuang.”
Taukah kamu? Awal, betapa berat hati ini untuk melepas kenikmatan Tahun Baru sebelumnya. Inginnya merayakan bersama anak2 kos seperti tahun2 sebelumnya. Suasana kekeluargaan yang kental, makan enak (jarang – jarang kan, hehehe) dan moment lain bersama orang special (keluarga dan sahabat). Namun, saya telah membulatkan tekad yang selalu diiringi do’a pada Yang Maha Kuasa. Apa hasilnya? Sekarang saya bisa melupakan itu semua, hati ini sudah tak mau, dan seolah semua hilang begitu saja. Ringan …… Itulah yang saya rasa.. Perasaan miris justru ketika melihat apa yang terjadi, apa yang banyak dilakukan mereka yang tak mengerti, mereka yang tak mau mengerti, atau mereka yang hanya mencari jalan tengah dengan hanya ikut ikutan saja sebagai sebuah penghormatan terhadap mereka yang tak mengerti.
Bagi yang mengerti, paham dan melaksanakannya, jangan pernah lelah untuk menyampaikan karena saya yakin kelelahan ini akan terbayar dengan sesuatu yang lebih indah kelak. Something special dari Tuhan, iya kan? Jadi …. SEMANGAT
Surabaya, 31 Desember 2011
Kamar Kos
Nb: Adik saya sie kecil Andin, sudah bisa baca Al-Fatehah meski masih dituntun. tapi lumayan lancar lho… hehehehe
Saya benci suara petasan, jadi malam ini sepertinya harus nutup telinga dengan headset deh…huft…ingin lempar geranat…astaghfirullah








Great story
Salam kenal mba dari anak Sumedang..
Semangat ngeblog!
Semngat….
weh mbak….kekekekeke*ya merasa tua (glek)
makasih ya Dian….
salam kenal juga