Hati saya tersentak ketika saya membaca sinopsis tentang 49 Days (salah satu serial drama Korea yang sekarang lagi diputar di Indosiar Jam 16.30 kalo gak salah), Tuhan seolah mengingatkan saya tentang kehidupan ini melaluinya. Saya teringat tentang sifat saya yang sering melalaikan waktu, mengangap waktu saya masih panjang untuk hidup sehingga saya lebih banyak melakukan hal – hal yang tak berharga. Sering menyakiti orang lain, bahkan sering menyakiti orang – orang dekat yang sangat menyayangi saya (Orang tua, saudara, dan sahabat), sering menodai hati, sering bernegatif thinking dan sering melakukan hal – hal yang sebenarnya saya membencinya.
Lalu saya diingatkan tentang kematian, sebuah kepastian Tuhan kepada setiap makhluknya yang bernyawa. Saya teringat kutipan kalimat dari 49 days:
“Lebih baik kamu hidup karena denganya kamu bisa mencintai, menyayangi, & membenci, sebab jika kamu sudah mati semua itu tak akan ada lagi artinya.”
yupz, benar sekali itu. Saya langsung membayangkan ketika kelak kematian telah datang pada saya, saya terbujur kaku tidak bisa melakukan apa – apa lagi. Saya tidak lagi dapat mengatakan bahwa saya sangat mencintai orang tua saya, saya sangat mencintai adik – adik saya, nenek saya, kakung, saya, mas – mas saya, om, pakde, bude, seluruh saudara yang sangat menyayagi saya selama ini yang mau berkorban hanya demi kebahagiaan saya, dan sahabat – sahabat yang selalu tulus menyayangi saya. Mereka semua lebih banyak saya sakiti daripada saya bahagiakan, bahkan kebahagiaan kecil itu sendiri. Bagaimana jika kematian itu memang benar2 akan menjemput saya ketika saya belum melakukan banyak hal buat mereka? Terlebih buat Tuhan yang selalu menyayangi saya tiada habisnya, saya belum mendapat bekal yang cukup untuk akhirat saya. Bagaimana?…
Yang pasti penyesalan… ya … penyesalan akan menyelimuti saya, saya hanya akan menyesal di depan Tuhan karena tak melakukan nbanyak hal yang dicintai_Nya di dunia semasa saya hidup. Jujur saya takut…. saya takut dimana letak saya kelak? Surga ataukah neraka?
Saya tidak ingin mati dalam penyesalan dan ketakutan, saya ingin mati dengan kebahagiaan dan kepasrahan menyambut tangan Tuhan, dijemput malaikat yang baik hati nan rupawan. Muluk? bagi saya tidak karena memang itu seharusnya cita2 bagi semua muslim termasuk saya.
Saya ingin, setelah saya membaca ini saya akan menjadi Efinda yang baru. Lebih menghargai waktu, keluarga, saudara, dan sahabat saya. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk hal hal yang berharga, berharga dimata Tuhan dan manusia. karena sungguh saya tidak tau detik akhir saya menghirup Oksigen di dunia.







