17 Desember 2011, untuk pertama kali saya memutuskan berjalan – jalan sendirian di danau Unair. Tanpa kawan cukup nikmat sendirian berjalan dan menghela nafas sejenak menikmati kesegaran embun pagi, serasa waktu ini saya yang merajai waktu.
Teringat tulisan teman di blognya yang ketika itu sedang marah dan meluapkannya ditempat ini, dia berbicara pada merpati dan air di danau. Ya…bagus sekali tulisannya, khususnya ketika dia menggambarkan seolah – olah danau dan merpati bisa merasakan perasaannya.
Ingin seperti itu, tapi dirasa – rasakan masalah pada diri saya yang beberapa hari ini cukup mengganggu namun sebenarnya saya juga tidak tahu masalah apa itu, seolah menguap pergi begitu saja. Pagi itu yang saya rasakan hanya ringan dan bahagia saja, meski api kebahagiaan itu hanya disudut kecil hati saya, menyulut sebagian ruang dan terasa hangat.
Seperti biasa, hal pertama yang akan saya lakukan kalau di danau ini adalah saya akan mendekati merpati. Entah kenapa, sepertinya ada sense tersendiri ketika memandangnya. Ada perasaan tak terungkap melihat keelokan dan tingkah laku mereka. Terbang dari satu dahan ke dahan lain, serempak memakan biji jagung yang disebar pengunjung, kemudian segera terbang kembali ke sarang jikalau ada orang yang mendekati, awh...”sungguh jinak – jinak merpati.”

Usai memandanginya, perjalanan selanjutnya adalah “……”, ya saya sempat bingung menentukan kala itu. Memang saya sangat jarang kesini tanpa ada masalah, mau jalan tapi gak ada temen, mau diem sayang sekali mumpung udara lagi seger dan itung – itung olahraga. sekian detik berpikir akhirnya nekat pun menghampiri, ya… saya pilih untuk PD saja jalan sendirian mencari kesehatan dan udara segar sambil mencari view2 yang bagus untuk saya tampilkan di blog.
Ini beberapa yang saya dapatkan:

kemegahan rumah sakit UNAIR yang tak kunjung digunakan, “sangat disayangkan”

Rektorat UNAIR yang nampak gagah dan elegan menyongsong WCU, “meski sedikit dipaksakan dan mutu WCU yang patut dipertanyakan pula.” O.o

”Kesibukan Surabaya di pagi hari.”

Nampak ada beberapa keluarga yang sedang asyik bercengkrama, “hemz…inginnya segera memiliki hal indah itu, bersama dengan orang yang saya cintai dan buah hati, serasa tentram sekali.” Saya hanya tersenyum ketika mengambil foto ini

Pertama kalinya saya melihat angsa berenang dan itu cukup menggelitik karena lucu sekali

Berpikir, “Angsapun hidup secara bersama, saling rukun dan kerjasama. kenapa saya sedikit kesulitan ketika menghadapi kata ‘bersama’?” hemz……
Setelah berputar cukup satu kali, akhirnya tiba saya ditempat favorit saya. Dipojok bagian barat sisi dekat jalan raya atau dekat pintu samping Unair. Duduk saya menikmati panorama yang ada, hemz … dimata saya semuanya nampak sempurna. Ensiklopedia hidup telah saya buka, saya mulai membaca dan berpikir akan semua hal dari masalah saya yang telah lalu, fakta yang saya indera saat itu. Waaahhhh….benar2 asyik sekali
. . . . . , jarang2 saya bisa punya waktu senggang di hari seperti ini. Ingin sekali saya mengajak keluarga saya untuk memperlihatkan apa yang saya lihat dan apa yang saya rasakan kali ini, sepertinya itu akan sangat lebih nikmat
Tak puas denga foto2 sebelumnya saya pun melai mengambil gambar lagi, mengabadikan potret pagi itu di danua UNAIR

Cantik bukan gambar yang saya ambil, hehehehe

Pemandangan yang paling saya suka, ada pohon berjajar rapi di dekat sumber air. Awh…… cantik …..

Ini dia kombinasi antara danau dan merpati yang memberi kesan dinamis dan mendalam.
Ini semua akan lebih cantik bagi saya, kalau ini adalah senja. Ya saya suka senja…
sepertinya senja akan menyuguhkan panorama yang mendalam bagi saya, lebih emosional dan . . . . . .lebih saja pokonya
Namun, yang terpenting adalah panorama danau UNAIR adalah maha karya yang indah dan cantik antara tangan manusia dan Tuhan
Surabaya, 18 Desembar 2011 (3.59 am)








haru sabtu kemaren kan ef?? berarti bener yang aku liat efinda…. whuaaa gak pake kacamata sih aku, jadi ragu yang mau nyapa
kamu dimananya Mik? Q tak melihat sama sekali….
hehehehhe
iya Sabtu kemarin