Hari ini, diantara waktu yang kulewati dan diantara kisah yang kujalani terseret pikiranku pada sebuah peristiwa. Menarikku pada suatu pusaran pemikiran akan sebuah rasa syukur.
kulihat seorang pemuda berjalan mendekat dengan seorang temannya. Tak nampak ada yang istimewa dari dia, yang nampak hanyalah sesosok pemuda kota tak terurus yang hidupnya hanya melanglang sana sini tanpa arah yang pasti. Entah kenapa mata ini tak lepas dari dia, seolah ada suatu magnet yang tak nampak yang senantiasa menarik mata ini pada sesosok pemuda itu. Semakin mendekat diapun akhirnya melewati diriku yang terpaku, buyarlah kebisuan dan kekeluan ini karena bapak penjual ‘tahu tek’ bertanya “Dek pedes ya?” sontak diriku…”ehmz..iya pak pedes.”
buyar semua dan akupun lupa akan sesuatu yang kupikirkan dan perhatikan sebelumnya. Saat itu aku hanya berdiri disamping gerobak tahu tek ‘cak Warto’ sambil memperhatikan bapaknya yang amat terampil mengethek – thek guntingnya, hehehe…Serasa memang itu sudah rencana Tuhan. Badan ini kemudian menengok kearah belakang, hingga akhirnya kembali melihat sesosok pemuda itu. Semua ini terjadi hanya beberapa detik saja lho…
Lanjut peristiwa, semakin dipandang ternyata ada yang aneh pada pemuda itu. “Oh….kakinya, jalannya, lho…kok pincang??” benakku berbicara. Awalnya hanya komentar – komentar tak penting yang terselinap dalam otak ini
“Walah kok kakinya bisa kenceng gitu ya? ehmz…habis patah paling..terus gak dioperasikan pada yang benar hanya bawa sangkal putung udah…hemz..kasian banget. Tapi untung dia gak minder de sepertinya….heheheheh”
Dheg…
entah bagaimana dan apa…tiba tiba hati ini bergetar, “ya Allah…kok bisa yang saya pikirkan itu? kenapa saya…??” oh….tiba tiba saya ingat pada diri saya sendiri yang nampak sempurna dengan segala anggota tubuh yang lengkap tanpa cacat namun terkadang masih merasa minder dan kurang dengan anugerah Tuhan yang sa







